Showing posts with label seputar buku. Show all posts
Showing posts with label seputar buku. Show all posts

Sunday, March 7, 2010

Sistem Royalty dan Beli Putus Naskah Buku

imagesbookSistem Royalty dan Beli Putus Naskah Buku

Banyak temen-temen yang bertanya, jika saya ingin menerbitkan buku, saya harus membayar berapa? Bisanya saya selalu menjawab “gratis”. Eh temen saya malah melongo.

Secara umum ada beberapa sistem dalam kerjasama penerbitan buku, antara lain:

  1. Naskah buku dibeli putus oleh penerbit. Maksudnya adalah naskah dari penulis langsung dihargai (dibeli) oleh penerbit. Tentu saja negosiasi harga sebuah naskah harus sesuai dengan kesepakatan antara penulis dan penerbit. Untuk itu penulis tidak mendapat royalty. Kesepakatan/kerjasama sistem beli naskah putus tiap penerbit tidak sama, tergantung dari kebijakan masing-masing penerbit.

  2. Naskah buku dengan sistem royalty. Royalty adalah pembagian dari hasil penjualan buku. Besaran royalty di Indonesia rata-rata 10% dari harga buku (bruto). Misal; jika harga buku Rp10.000,-/eksemplar maka penulis akan mendapatkan royalti sebesar Rp1000,-/eksemplar. Pada umumnya royalty diberikan setiap semester. Namun ada juga penerbit yang membayarkan royalty lepada penulis dimuka, artinya sebelum buku terjual penulis sudah mendapatkan royalty terlebih dahulu. Besaran pembayaran royalty tergantu kebijakan penerbit. Maka dengan sistem ini penulis tidak dibebani biaya produksi.

  3. Naskah buku dengan sistem subsidi. Dalam hal ini penerbit dan penulis atau mungkin ada sponsor, bekerjasama mendanai biaya pembuatan buku, sehingga memungkinkan harga buku lebih murah.


Namun dari ketiga contoh sistem kerjasama penerbitan buku ini, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kebijakan penulis dan penerbit menegosiasikannya.

Proses Umum Penerbitan Buku

diagram umum proses penerbitan buku

Proses Umum Penerbitan Buku

  1. Naskah Buku/Mengirim Naskah Buku. Naskah buku bisa berasal dari seorang penulis atau hunting naskah baik dari dalam maupun luar negeri (buku terjemahan). Jika naskah buku berasal dari seorang penulis lokal biasanya naskah dikirim langsung ke penerbit, misal: Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Elexmedia, Erlangga, Kanisius, Dioma, Galangpress, penerbit Kompas dll. Pada umumnya pihak penerbit mensyaratkan pengiriman naskah dalam bentuk print out dan soft copy (dalam CD atau DVD). Untuk memudahkan proses penerimaan naskah, penulis perlu menyertakan data pribadi secara lengkap dan ringkasan tentang isi dari naskah tersebut. Lebih lengkap lebih baik. Jangan lupa memberikan catatan tentang point of sales dari nakah buku yang dikirimkan,  sehingga pihak redaksi bisa segera memproses/menyeleksi naskah tersebut. Penulis tinggal menunggu beberapa minggu untuk menanti jawabkan dari redaksi, apakah layak diterbitkan atau tidak. Jika proses menunggu terlalu lama tidak ada salahnya kalau anda proaktif menghubungi pihak penerbit.

  2. Penerbit Buku. Setelah naskah diterima oleh penerbit, maka naskah tersebut akan diseleksi oleh pihak redaksi. Redaksi akan menilai apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak. Naskah yang layak terbit tergantung dari penilaian redaksi, misal; apakah naskah tersebut sesuai dengan visi dan misi penerbit? Apakah marketable dengan kondisi pasar sekarang? Dll. Sebagai contoh: naskah buku pelajaran sekolah lebih cocok dikirimkan ke penerbit yang memang konsen/memiliki visi misi di dunia pendidikan, misalnya penerbit Erlangga, Grasindo, Intan Pariwara, dsb. Jadi penulis juga perlu tahu, kira-kira naskahnya sesuai diterbitkan di penerbit mana? Untuk mencari info penerbit bisa melalui internet, googling, atau alamat penerbit buku. Jika naskah tersebut layak terbit maka penulis akan dihubungi penerbit, selanjutnya akan dibuatkan MOU kerjasama penerbitan antara Penerbit dan Penulis. Jika naskah tidak layak terbit, akan dikembalikan oleh penerbit ke penulis. Namun, jangan berkecil hati. Naskah yang dikembalikan belum tentu tidak layak terbit, karena itu penilaian dari satu penerbit. Coba tawarkan ke penerbit lain, mungkin naskah tersebut sesuai di penerbit lain. Sebagai saran; jangan pernah mengirimkan naskah anda dengan judul dan isi yang sama ke banyak penerbit, karena dapat menyulitkan penulis jika ternyata naskah tersebut diterima oleh lebih dari satu penerbit. Kedua, jangan pernah mengirimkan naskah buku yang sudah pernah diterbitkan oleh penerbit yang masih dalam ikatan kontrak, bisa jadi nama anda akan di blacklist oleh penerbit.

  3. Proses Editing Naskah. Andaikan naskah anda sudah diterima dan akan diterbitkan oleh penerbit. Jika ya, anda pasti sudah menandatangi surat perjanjian kerjasama penerbitan buku. Baca secara seksama, agar anda juga mengetahui segala hak dan kewajiban yang nantinya akan anda patuhi dan terima. Jika dalam point perjanjian ada pasal-pasal yang tidak sesuai dengan keinginan anda, anda bisa menegosiasikan dengan pihak penerbit sehingga perjanjian dapat menguntungkan kedua belah pihak. Selanjutnya naskah anda akan diproses kembali melalui editing dan setting. Seiring berjalannya proses editing dan setting naskah, pihak penerbit juga menyiapkan cover buku untuk buku anda. Setelah semuanya selesai, selanjutnya tinggal menunggu proses cetak di percetakan. Penulis tinggal menunggu hasil dari karya intelektualnya. [semoga bermanfaat]

Thursday, February 25, 2010

Belajar Konsep Desain

bulbMendesaian sebuah layout sebuah media informasi (buku, booklet, brochure, flier, tabloid, dll) memang tidak mudah. Ternyata butuh modal dasar untuk yang memang tidak gampang. Salah satunya dengan menggunakan konsep dasar 5 W ( What, Why, Who, When, Where) dan 1 H (How), begitulah share dari temen-temen desainer.

  1. WHAT, apa tujuan desain tersebut? Menetapkan tujuan sangat penting karena tanpa tujuan pesan yang akan disampaiakan akan tidak tersampaiakan.

  2. WHY, mengapa media informasi ini penting untuk audience?

  3. WHO, siapakah target audience-nya/pembacanya?

  4. WHEN, kapan waktu yang tepat untuk mempublikasikan media informasi.

  5. WHERE, dimana dapat meletakan/memasang media informasi supaya mudah dibaca oleh terget audience.

  6. HOW, bagaimana cara menyampaiakannya pesan agar dapat cepat diterima oleh target audience.


Biasanya sebelum desainer memulai sebuah proses mendesain sebuah media informasi ataupun buku ada proses creative brief, dari atasan atau pihak yang terkait/pemesan, yang fungsinya sama dengan konsep desain, namun tertuang dalam bentuk tulis. Pada prinsipnya seorang desainer akan lebih cepat bekerjanya jika mendapat informasi secara lengkap. Sehingga nantinya dapat tertuang dalam desain yang begitu menarik dan pesan dari informasi itu dapat sampai ke target audience. (Semoga bermanfaat)

Sunday, February 21, 2010

Membuat Kalimat Judul Buku

judul buku

Pengenalan Komputer Pada Anak, Financial Revolution, Marketing Revolution, Berguru Pada Anak, Membajui Yang Telanjang, Nikmatnya Mie Remes, 7 Langkah Mudah Menjadi Web Master, How To Advertise, Tips & Trik Menjadi Blogger, Kaya Lewat Internet, dan lain sebagainya.

Kalimat diatas adalah contoh kalimat judul sebuah buku. Kalau kita amati kata dari masing-masing kalimat judul diatas tidak ada yang lebih dari 5 kata.

Memang menarik kalau kita mencermati ribuan judul buku yang beraneka warna serta font di toko buku terkemuka diseluruh kota besar Indonesia. Lalu apa yang menarik? Barangkali, salah satunya adalah rangkaian kalimat judul. Bagi orang awam, apalagi yang sama sekali tidak berkecimpung di dalam proses pembuatan sebuah buku pasti tidak akan tahu tahap-tahap membuat kalimat judul.

Memang tidak mudah membuat kalimat judul hingga layak tampil di halaman cover depan dari sebuah buku. Dalam hal ini, editor dan marketinglah yang merupakan tempat menggodok atau memroses kalimat judul. Membuat kalimat judul sama halnya dengan merangsang calon pembeli, minimal melirik dan tertarik dengan kalimat judul yang kita buat, sehingga akan terjadi transaksi pembelian.

Berikut ini adalah beberapa masukan dari teman-teman penerbit (buku) mengenai proses pembuatan kalimat judul sebuah buku:

Pertama, hendaknya kalimat judul dibuat beberapa kalimat kurang lebih 5 sampai 10 kalimat, sebagai deretan kalimat untuk didiskusikan. Kalimat judul harus erat kaitannya dengan isi buku.

Kedua, bersama team mendiskusikan kalimat judul. Kalimat judul harus memiliki kuatan menjual. Sehingga buku tersebut, meskipun hanya dengan sebuah judul saja sudah mampu menjual dirinya sendiri jika terpampang di toko buku, media iklan maupun di media promosi yang lain.

Ketiga, jika dimungkinkan melakukan survey pasar untuk menentukan judul mana yang paling dilirik pertama kali oleh calon pembeli, meskipun calon pembeli belum membaca isi bukunya.

Keempat, memutuskan judul mana yang akan dipakai dalam kalimat judul.

Kelima, berdiskusi dengan bagian desain grafis untuk menentukan pembuatan desain cover buku. Jika dimungkinkan melakukan survey pasar untuk memutuskan desain mana yang layak jual.

Proses pembuatan judul buku tidaklah berhenti begitu saja sampai kelima. Pasti! Ada langkah keenam, ketujuh dan seterusnya. Minimal bagi orang awam tahu garis besarnya bagaimana proses membuat kalimat judul sebuah buku.

Memang, ada kalanya kalimat judul buku tidak dibuat oleh pihak penerbit. Penulis biasaya sudah mencantumkan judul buku yang ditawarkan ke penerbit. Tetapi untuk menentukan kalimat judul mana yang akan dipakai tergantung dari kesepakatan antara penulis dan penerbit. Maka, disini sering terjadi pro dan kontra dalam menulis sebuah kalimat judul. Si penulis menginginkan judul sesuai dengan idenya sendiri tanpa memperhitungkan apakah judul itu menjual, sedang penerbit sangat mempertimbangkan layak tidaknya judul sebagai kalimat yang menjual. Disinilah perlu adanya komunikasi yang baik antara pihak penulis dan penerbit. [yos ] :-)

Saturday, May 16, 2009

MEMBACA DAN MENULIS





Asik kita udah bisa membaca dan menulis. Saya teringat sewaktu masih duduk dibangku kelas satu Sekolah Dasar. Dimana saat itu, Guru kami mengajarkan bagimana cara mengeja kata. Namun, saya lupa, mana yang terlebih dahulu, membaca atau menulis? Namun tidaklah penting, yang pasti saat ini saya sudah bisa membaca dan menulis.


Membaca dan menulis memang kegiatan yang bertolak belakang. Tidak mungkin kita membaca sambil menulis, atau sebaliknya. Membaca dan menulis adalah suatu kebiasaan, yang jika kita pupuk terus-menerus akan menghasilkan sebuah pengetahuan, yang mungkin bisa berguna bagi siapa saja, atau bahkan akan menjadi cacian bagi siapa saja.


Kata seorang penulis,” Aku tidak pernah bisa menulis ketika aku sedang membaca, padahal aku ingin menulis sebuah tulisan. Namun aku binggung, aku tidak punya pengetahuan untuk berimajinasi.”


Lalu mana yang harus kita dahulukan, membaca atau menulis? Sandaianya kita melakukan aktivitas membaca, dan terus menerus membaca, kapan kita akan bisa menulis? Seandainya kita melakukan aktivitas menulis terus-menerus, kapan kita akan membaca? Yang pasti perlu adanya keseimbangan untuk melakukan kegiatan membaca dan menulis.


Bagi saya membaca ibaratnya sebuah makanan, dan menulis adalah sebuah hasil/energy yang telah kita makan. Mungkin idealnya adalah membaca terlebih dahulu baru selanjutnya kita melakukan aktivitas menulis. Dengan kata lain membaca adalah sebuah proses melakukan kegiatan yang menghasilkan pengetahuan, dan informasi sedangkan menulis adalah sebuah proses untuk menuangkan gagasan/ide dari aktivitas kita membaca. J

ASIKNYA MENDESAIN COVER BUKU


Suatu ketika saya mengunjungi teman-teman di salah satu perusahaan penerbitan buku yang tiap hari kerjaannya bergelut dengan dunia desain, khususnya desain cover buku.Yah, meskipun mereka masih dibilang anak baru kemaren tetapi sudah mampu menciptakan sebuah karya seni intelektual.


Dunia penerbitan memang sangat kompleks, tahap demi tahap harus dilalui untuk menciptakan sebuah karya, mulai dari hunting naskah sampai menjadi sebuah buku yang layak dikonsumsi bagi penikmat buku.


Menurut mereka, mendesain sebuah cover buku lebih sulit jika dibandingkan dengan mendesain sebuah materi publikasi semisal, poster, spanduk, leaflet, banner dll. (meskipun hanya font dan ilustrasi) Kenapa lebih sulit? Karena tema desain harus sesuai dengan isi buku, hal ini terkadang membuat desainer tidak bisa meng-eksplore kemampuannya untuk berimajinasi bebas. Mereka seringkali merasa dibatasi oleh tema buku, sehingga semakin sempit ruang untuk menuangkan kreativitasnya.


Mendesain cover buku harus tahu isi buku secara keseluruhan supaya tidak terjadi salah komunikasi secara visual dengan penikmat buku, nantinya. Tidak lain tujuannya adalah menjembatani komunikasi dari isi buku secara keseluruhan kedalam bahasa visual supaya calon penikmat buku dapat menerka-nerka isi buku. Seringkali untuk mendesain cover buku dibutuhkan waktu yang agak lama, meskipun bisa juga dibuat dengan cepat.



Lalu bagaimana dengan mendapatkan sebuah ide, gagasan maupun imajinasi untuk menuangkan kedalam bahasa visual. Banyak dari teman-teman desain yang hunting di internet, melihat desain-desain dari cover buku milik penerbit buku terkenal dunia, lalu dikombinasi dengan kreativitasnya sendiri. Atau juga bisa mengeksplore imajinasi mereka sendiri dengan membaca buku tentang desain atau duduk diatas toilet. Dan masih banyak cara untuk mendapatan sebuah ide yang kreatif J


Monday, October 6, 2008

Trend Novel Religi

Setelah meledaknya novel terjemahan, The Da Vinci Code karya Dan Brown yang diterbitkan oleh penerbit serambi pada Juni 2004 dapat dikatakan sebagai awal trend novel kontroversi. Pro maupun kontra langsung bertebaran di segala belahan dunia. Salah satu penerbit Indonesia yang meng-counter ketidak benaran dari novel karya Dan Brown adalah penerbit Dioma, dengan menerbitkan sebuah buku berjudul The Da Vinci Hoax. Faktanya pada saat itu, dalam industry buku, buku-buku yang kontroversi justru mendapatkan tempat di pasar. Akibatnya banyak dari penerbit-penerbit lain yang menjadi follower trend yang diminati pasar. Buku The Da Vinci Hoax juga numpang tenar karena judulnya mengcounter The Da Vinci Code. Mana yang benar, para pembaca terkadang dibuat binggung oleh karya-karya yang kontroversi ini sehingga tidak menutup kemungkinan banyak pembaca yang terpengaruh dan mencari kebenaran menurut persepsi pembaca.

Setelah pasar jenuh dengan buku novel yang kontroversi kini trend buku novel kembali menemukan nafas baru. Bukan lagi sebuah novel yang bisa menimbulkan permusuhan, melainkan trend baru yang sifatnya lebih ke religious. Siapa penerbit yang memelopori dalam membuat trend baru ini? Belum ada survey. Faktanya, kita bisa menemukan judul-judul novel tersebut di toko buku Gramedia dan selalu mendapat tempat di display buku best seller yang diminati pasar. Sebagai pelopor dari trend buku novel religious adalah novel berjudul Ayat-Ayat Cinta (penerbit Republika), disamping itu ada buku-buku lain; Cintamu Setulus Samudra (Mizan), A Thousand Splendid Suns
dan masih banyak lagi judul-judul yang berkategori religious.

Lalu, selanjutnya trend buku novel apalagi yang akan diminati pasar dalam industy buku? Kita hanya bisa menunggu apa yang akan dimaui pasar atau kita akan menciptakan sebuah trend baru? .

Kok Jadi Buku Obral!

Ketika saya berkunjung ke Yogyakarta dalam agenda kerja saya. Saya menyempatkan mampir dalam sebuah event book fair yang bisa dibilang berskala nasional, yang pasti lebih dari 100 penerbit yang mengikuti. Dari berbagai acara yang tertera pada banner di pintu masuk dari tahun ketahun tidak ada yang berubah, seperti yang selalu saya lihat di event-event sebelumnya, mulai dari “Jumpa pengarang”,” Talk Show”, “Bedah Buku”, “Workshop seputar jurnalistik, komputer dan karya tulis”, “Lomba Menggambar”, “Lomba Mewarnai”, selalu menghiasi papan acara dipintu masuk. Apa menariknya jika acara yang disajikan monoton setiap tahunnya? Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang paling sering mengadakan “pameran buku”. Banyak EO (event organizer) seperti buka buku production, shaka organizer dll yang berlomba untuk mengadakan event, meskipun ada juga yang hanya sebuah EO dadakan. Ya, itung-itung bagi bagi rejeki lah J.

Lalu apa yang menarik dari acara semacam ini, yang digelar berulang kali hingga setahun bisa mengadakan event pameran sampai 6 kali. Salah satu yang menarik adalah kita lupa akan kemampuan produksi dan kapasitas produksi dari suatu produk yang kita hasilkan. Bertumbuhnya pemain-pemain baru dalam dunia penerbitan tidak bisa kita pungkiri karena sudah menjadi trend di Indonesia, kita selalu ingin mengikuti jika orang lain sukses dalam bisnisnya. Seringnya pameran buku baik yang bersifat local maupun nasional merupakan fakta bahwa pengusaha penerbitan buku kurang memperhitungkan space market/daya tampung pasar,
yang akhirnya kita kebinggungan untuk menjualnya.
Menariknya ada sebuah stand yang hanya membiarkan koleksi buku-bukunya berserakan di stand tanpa didislpay. Hanya dijual dengan empat harga, yaitu; Rp 5.000,- Rp 10.000,- Rp 15.000,- Rp 20.000,- siapa yang tidak tertarik dengan harga semuarah itu, padahal kalau kita cek harga di toko buku Gramedia atau Toga Mas jauh lebih mahal. Apakah akhirnya, yang sering disebut-sebut dengan karya intelektual harus bernasib di sebuah stand pameran buku obral?

Estetika, mungkin bagi sebagian penerbit sudah melupakan dalam mendesain stand, meskipun ada beberapa penerbit besar yang tetap memertahankan estetika stand karena image perusahaan. Stand dibuat semenarik mungkin menurut ukuran kantong, banyak juga tulisan obral bergantungan di masing-masing stand. Ada yang menuliskan diskon gede-gedean hingga 70%, ada yang langsung menuliskan Cuma Rp 5000, aja, ada pula yang hanya menuliskan diskon 10% dan masih banyak kreativitas menulis lainnya,
yang lebih ekstrim lagi ada sebuah stand dengan sengaja menyebar hasil karya intelektual ini ke lantai stand, seperti yang dilakukan oleh Yusuf Agency.

Didalam tulisan ini saya mencoba untuk mencari beberapa factor yang kemungkinan memengaruhi mengapa penjualan buku, khususnya di Indonesia banyak yang masuk dalam kategori buku obral.

1. Tidak ada servey pasar. Ini jelas sekali sering diabaikan oleh pihak penerbit karena bagian produksi buku (redaksi) merasa pandai/merasa intelek dalam memilih buku yang diprediksi akan laku dijual di pasar. Namun justru pasar berbicara lain, setalah buku terbit malah tidak ada buku yang terjual.
2. Kurangan pengetahuan bisnis bagi bagian produksi (redaksi) dalam memilih naskah yang market oriented, sehingga hanya karena menurut kata hati saja sebuah buku akan diterbitkan.
3. Tidak tersegment dengan tepat.Seharusnya sebuah buku ketika masih embrio bagian produksi sudah harus tahu segmen pasar apa yang nantinya harus di bidik. Bukan sebaliknya mensegmentasi pasar setelah buku itu siap didistribusi. J
4. Judul Buku Yang “Ngawur”. Jangan Asal Menarik menurut persepsi desainer. Judul buku tidal asal bunyi. Maksimal hanya lima sampai enam kata. Contoh, buku best seller nasional karya Tung Desem Waringin berjudul The Financial Revolution, Cuma ada dua kata saja. Tidak ada kata dalam pembuatan judul buku. Factor lain yang memengaruhi adalah ketidaksesuaian antara isi dan judul buku. Ini akan berpengaruh terhadap konsumen karena merasa dirugikan.
5. Timing distribusi tidak tepat. Moment-moment penting dalam me-launching buku juga perlu dipertimbangkan karena pasar sendiri yang membuat trend.
6. Distribusi yang tidak merata. Sudah susah payah beriklan/berkampaye, penyebaran buku tidak merata. Ini salah satu bagian yang juga tidak bisa diabaikan karena perencanaan yang kita buat kurang matang. Seharusnya sejak awal kita sudah tahu kemana saja sebuah buku akan didistribusikan. Bukannya buku sudah jadi baru kita memikirkan penyebarannya.
7. Tidak Melakukan Book Campaign Book Campaign sangat perlu karena salah satu cara untuk mengenalkan sebuah buku ke konsumen, meskipun misalnya harus menggunakan cara seperti road show dan jumpa pengarang dengan mennggandeng artis/public figure.
8. Mengabaian Desain Cover. Sama dengan “ngawur/asal-asalan dalam mendesain cover buku sangat berdampak pada penjualan buku itu sendiri. Mestinya buku yang bagus otomatis bisa menjual dirinya sendiri tetapi karena cover yang dibuat asal-asalan tadi justru membuat masuk dalam kategori buku obral.
9. Kualitas cetak dan jilid. Nah… ini juga salah satu yang paling fatal. Font, colour, theme, spasi dll serta kekuatan lem jilid sangat berpengaruh terhadap konsumen. Terkadang kualitas cetak dan jilid ini menjadi prioritas yang kesekian sehingga kurang begitu terkontrol. Dampaknya konsumen akan menanggung kecewa.Dll. Masih banyak yang lainnya
10. …
11. Semoga bermanfaat

Ke-Inggris Ingrisan, Biar Keren gitu Loh!

Suatu saat saya pergi kesebuah toko buku terbesar di kota Malang. Saat saya mengamati segerombol remaja yang mengelilingi floor display buku novel remaja ada sesuatu yang menarik. Saya mencoba mendekati bertaya kepada salah satu dari mereka, “dik, lagi pilih buku apa?”

lalu dia menjawab, “Oh, ini lho mas, cari novel remaja, pengarangnya adalah teman satu kelas kami.”

“Wah, pasti pintar ya temanmu bias nulis buku pakai bahasa Inggris.” Sahutku, sambil aku lirik buku yang dia pegang.

“Ya enggak lah! Ini kan hanya judulnya aja mas yang pake bahasa Inggris. Isinya pake bahasa Indonesia kok.” Salah satu dari mereka menimpali.

“Biar keInggris Inggrisan gitu loh!” salah satu dari mereka menyahut. :)

Suatu peristiwa yang sangat menarik untuk kita cermati, bahwa permainan bahasa merupakan salah satu faktor penting untuk menilai sukses tidaknya dalam penjualan buku. Seandainya buku itu berjudul “apakah Itu Cinta?” mungkin tidak akan pernah menarik/dilirik oleh para remaja, meskipun sudah terpajang apik di display buku. Lain cerita jika kita menuliskan kedalam bahasa Inggris dengan “What Is Love?” pasti para remaja/ABG akan melirik dan mungkin sampai membelinya. Ke-Inggris Inggrisan inilah yang sudah menjamur dan semakin marak di Indonesia. Fakta, di toko buku sudah jelas, berapa banyak buku yang diterbitakan oleh penerbit lokal/penerbit dari Indonesia sendiri yang memakai kata dalam bahasa Inggris. Bahkan buku best seller di Indonesia yang memecahkan rekor MURI sebagai buku local terlaris yang terjual sebayak 10511 eksemplar sehari memakai kata dalam bahasa Inggris. Masih ingatkah buku yang di tulis oleh Tung Desem Waringin berjudul Finacial Revolution, Ini adalah sebuah fakta, dan sulit untuk membendungnya.

Pergeseran bahasa memang tidak bisa kita bendung begitu saja. Sebagai contoh, kita harus mencintai produk Indonesia. Apakah semudah itu? Justru semakin banyak orang yang mencintai produk dari luar negeri, tentu dengan berbagai alasan. Mungkin karena kualitasnya lebih bagus jika dibanding dengan produk dalam negeri atau seribu alasan lain.

Kita perlu waktu untuk berproses menjadi diri kita sendiri, untuk mencintai diri kita sendiri, apalagi mencintai produk kita sendiri atau bangga pada diri kita sendiri. Bagi kita permainan bahasa tidaklah penting, yang terpenting adalah manfaat dari apa yang kita pelajari lewat media, baik cetak maupun elektronik. Tentunya, apa yang kita dapat dari sebuah fakta adalah untuk semakin mendewasakan pola pikir kita.