Showing posts with label refleksi. Show all posts
Showing posts with label refleksi. Show all posts

Monday, November 29, 2010

Kangen Nulis

Akhirnya ada kemauan lagi untuk menulis hehehe, yah... meskipun dengan kesibukan yang sangat menyita. Teman-temanku banyak yang bilang kalau waktu 24 jam itu sangatlah pendek. Buktinya banyak teman-teman yang bekerja sampai larut malam. Nah itu membuktikan bahwa waktu 24 jam masih kurang.

Kesibukan baru setealah resign dari salah satu penerbit buku di kota Malang, adalah sesuatu yang baru buatku. Aku menikmati kebebasan berekspresi, yang meskipun masih cukup tertatih. Tapi aku yakin, dengan ketekunan dan kemauan akan berjalan dengan baik.

Hehehe, rasanya masih sulit berekspresi lewat kata :)

Wednesday, August 18, 2010

Refleksi Bola


Permainan sepak bola dapat dikategorikan sebagai permainan yang rekreatif. sangat merakyat dan murah. ya murah, karena ditempatku gratis jika ingin bermain, tinggal jalan kaki sudah sampai ke lapangan. Tidak hanya anak-anak yang senang bermain bola, bapak-bapak dan ibu-ibu pun juga menyukai permainan yang satu ini. eh...jangan ngeres dulu loh. Iya, saat menjelang Agustusan sering diadkan acara lomba sepak bola antar kampung ataupun antar warga untuk memeriahkan ultah negara RI. Ada bapak-bapak yang bermain sepak bola pakai daster dan berdandan ala ibu-ibu, sedang ibu-ibu bermain sepak bola dengan memakai sarung. seru! seru! banyak gelak tawa mengiringi permainan itu, tapi yang lebih asik permainan itu pasti diakhiri dengan kegembiraan.

Hemmmm...jadi ingat masa kecil.

Tapi sekarang permainan sepak bola sering dijadikan ajang strategi untuk menendang teman sendiri, alias jegal-jegalan, sikut-sikutan, saling tunjuk dan saling adu jotos. Yah, mungkin sekarang udah pada pinter kali ya, memelajari sepak bola sebagai strategi untuk menjatuhkan teman sendiri. Bagi yang kerja di kantoran juga sering ada yang menggunakan strategi sepak bola sebagi alat untuk menaiki tangga kesuksesan. Bagi yang bergelut dengan keringat di lapangan hemmmmm selintutan alias cerdik untuk mendahului teman-temannya untuk menjadi yang terdepan.

Bermain sepak bola adalah permainan team, tidak bisa bermain sendiri. Ada penjaga gawang, bek, gelandang, dan penyerang. tapi ada juga sebuah team yang strateginya seperti bermain bola untuk memasukan temannya ke gawang, maaf bukan bolanya, ditendang-tendang kesana-kemari hanya untuk mencari-cari perhatian.

huh...! sepak bola tetaplah sepak bola, 22 pemain yang berebut memasukan bola ke gawang lawan

Thursday, June 5, 2008

journey

Dalam teriakan pemimpin kami berperang. Perang yang tidak pernah kami rindukan sebelumnya. Kami bagaikan sepasukan pasukan khusus membelah belantara, menyusuri jalan setapak atau bahkan membuat jalan baru. Kami bergabung menjadi sebuah team, team yang harapannya mampu untuk menyamakan persepsi dan menghargai pendapat satu sama lain. Tetapi teori tidak seperti kenyataan, bahkan kami juga saling memaki selama menjalankan tugas unmtuk mencapai tujuan. Kami tidak diberi nama yang lazim seperti nama para pemimpin kami. Nama-nama kami hanya sebuah sandi-sandi yang hanya diketahui oleh para pemimpin kami. Badak hitam, hiu tutul, macan tutul, elang hitam, itu nama-nama dari sandi kami. Masing-masing personil pasukan kami memiliki keahlian. Jika kami dihadapkan pada alam pasti pasukan kami bisa bekerja sama untuk memecahkan hambatan selama perjalanan. Pasukan kami dibuat garang supaya bisa membunuh pasukan lawan. Kami diajari cara membunuh, baik dengan senjata maupun tanpa senjata.

Perjalanan, bagiku sama dengan sebuah perang yang memiliki misi khusus atau pribadi. Sebuah impian yang mungkin selama ini hanya aku gantungkan saja. Untuk mewujudkannya aku tidak mungkin bisa sendiri. Keluarga, orang yang kucintai, selalu ada didalam dan selama perjalananku. Aku bahagia bisa mengingat satu-persatu orang-orang yang aku cintai, karena dengan getaran-getaran doa yang keluar dari bibir-bibir mungil itu bisa menyemagati perjalananku.

Terkadang aku juga malu, malu kepada diriku sendiri. Saat aku bermain dengan mainanku justru aku melupakan orang-orang yang aku cintai. Aku tersadar saat ketika doa-doa mereka menampar telinggaku hingga meluluhkan kerasnya hatiku. Mereka tahu jika amarahku datang doa-doa itu justru mampu meredakan amarahku. Mereka tidak akan sama-sama emosi meluapkan amarahnya, namun justru dengan kelemah lembutan mereka mampu membisikan kata-kata yang lembut untuk membunuh emosiku.

Aku cemburu karena aku tidak mampu seperti mereka, yang bisa membuat orang yang aku cintai merasa bahagia sedang aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku sadar aku banyak memiliki kekuarangan, kekurangan yang harus aku tambal sedikit demi sedikit sehingga mampu mengurangi kekuranganku. Kelebihanku, justru aku tidak bisa mengukur, orang lain saja yang menilai. Aku tidak mau menjadi sombong karena aku sudah merasa lebih, sebaliknya jika itu terjadi justru semakin banyaklah kekuranganku. Karena cemburu itu bagian dari cinta, maka aku sangat mensyukurinya.

Sepulang dari jakarta awal juni 08

Thursday, March 27, 2008

Kesetiaan, Rasa dan Cinta

Perjumpaan terakhir terkadang membuat kita merasa sedih, semua harap untuk berjumpa kembali akan selalu membayangi, menanti saat-saat indah yang selalu membahagiakan hati.

Ketika kesetiaan harus diuji terkadang kita sampai terseok. Rasanya seperti putus asa. rasa hidup seperti mati, matapun bisa menembus batas pandang, mengalahkan terawang hati.

Apalagi ketika rasa mulai diuji. Katanya cemburu adalah symbol dari cinta, namun disisi lain kita tidak ingin membunuh kreativitas atau membunuh keinginan seseorang yang kita cintai untuk bahagia.

INTROSPEKSI DIRI!!!

Kekuatiran terkadang muncul memutar balikan fakta, lebih besar dan mengalahkan rasa cinta, namun bukan berarti harus melarang rasa titu, tetapi semua itu untuk kebaikan.

Semua kegigihan dan ketekunan pasti dikagumi banyak orang. Terlebih jika kita memiliki potensi yang unik, semua orang pasti akan memperebutkan kita untuk menjadi apa bagi mereka.

Seringkali kita terbuai dengan rayuan mereka, dengan pena terkadang kita diingatkan. Seperti coretan tinta pada kertas putih, nurani mengikuti kata hati dan jemari. Semua coretan pasti berarti, tergantung kita ingin membuat makna apa.

Cinta tidak bisa diperbandingkan, hanya bisa dirasakan lewat rasa dan tindakan yang tulus.

Tuesday, February 26, 2008

KANGEN

Rasa kangen itu ternyata bisa membuat kita merasa bahagia dikala kita merasa sepi. Yah, meskipun yang kita harapkan tidak bisa kita paksa untuk ada menemani, namun rasa kangen itu harus kita akui sebagai anugrah Tuhan. Selanjutnya, apakah cukup kalau semua yang ingin kita rasakan sudah terjadi, barangkali kita kecewa, marah, benci atau kita semakin bahagia. Itulah rasa yang kita miliki. Hati kita sebenarnya sangat jujur dan bersih. Otak dan pikiran kitalah yang terkadang menjadikan kita berfikir yang negative. Terkadang kita malah bertindak anarkis jika mengetahui realita.

Kangen mendegar gemericik air, kita tidak perlu pergi ke sungai yang masih alami. Kita bisa membuat gemericik buatan. Bisa jadi dengan cara ini rasa kangen kita bisa terobati. Namun, apakah hati bisa ditipu. Tetapi bukankah yang kita dengar sama-sama gemericiknya? Emmmm. Memang suaranya yang sama, tetapi apakah kita bisa membuat suasana yang alami, yang dibuat oleh alam sendiri. Tidak mungkin kita bisa. Yang punya kuasa jauh lebih berkuasa. Ketika kita mencoba mencermati secara visual mungkin buatan lebih indah dari pada yang alami.

Manusia cenderung ingin tahu segala-galanya tentang apa yang dilihatnya. Kesombongan-kesombongan mulai terusik. Terkadang sombong yang berlebihan membuat manusia menjadi serakah, rasa menjadi mati dan ingin menjadi penguasa. Rasa kangen pun mati dilindas kesombongan, inilah aku(manusia). Manusia cenderung idealis, ingin merubah apapun yang dipandang kurang sempurna. Alam yang tampak biasa dan sederhana juga dibuatnya menjadi cantik menurut ukuran dan visualisasi manusia. Alam yang dibuat sedemikian rupa tidak tinggal diam dengan ulah manusia, alam memperbaiki dirinya sendiri dengan alamiah, yang mungkin menurut manusia bisa menjadi bencana. Bagitu lah alam, sama dengan manusia, jika diusik juga akan risih.

Monday, February 4, 2008

Logika & Rasa

Ketika matahari terbit dari ufuk timur adalah sesuatu yang tidak terbantahkan. Begitu pula dengan kehidupan- lahir, hidup dan mati juga tidak terbantahkan. Namun, terkadang justru kita yang membuat ataupun merubah sesuatu yang tercipta sebelum kita ada. Bagi kita mungkin itu sebuah penelitian ilmiah yang tidak ada kaitanya dengan sang pencipta. Tetapi dibalik itu semua ada karena memang sudah ada sebelum kita dijadikan.

Begitu pula dengan logika dan rasa. Mereka ada karena mereka adalah sesuatu yang membutuhkan keseimbangan. Dalam hal apapun mereka selalu ada, namum terkadang kita tidak merasa bahwa mereka ada. Mereka tidak bisa terpisahkan, jika mereka terpisah mungkin kita dianggap gila. Ya, mungkin selamanya kita akan mati atau kita akan tidur dan hanya hembusan nafas yang terdengar.

<tiga menit dalam refleksi pagi>

Monday, January 7, 2008

MENGGELINDING

Pagi tadi aku sempat membuka blognya mb Dewi lestari www.dee-idea.blogspot.com, menarik sekali sebagai bagian kecil refleksi di awal tahun. Terima kasih mb Dee telah berbagi cerita.

Sabtu, 5 Desember aku pulang ke Garum, Blitar bertepatan dengan hari ulang tahun ibuku yang ke-53. Senang sekali bisa berkumpul dengan semua keluargaku. Aku sebagai anak pertama memelopori memberikan hadiah di ulang tahun ibu. Sebuah cincin telah melingkar di jari manisnya. Sekarang ada tiga buah cincin yang melingkar di jari manis ibu, satu cincin perkawinan, cincin pemberian eyang putri dan satu lagi pemberian dari cinta kami, anak-anaknya.

Ibu senang menerima hadiah dari kami. Aku sebenarnya masih belum pantas untuk dibanggakan, aku masih punya harapan yang masih aku gantungkan. Syukur puji Tuhan dua adikku juga sudah bekerja, tinggal adik perempuanku yang masih kelas satu SMA.

Setelah ayah meninggal di penghujung tahun 1996 kuakui sedikit berat roda kehidupan bagi keluargaku. Kami terus mengelinding mengikuti roda kehidupan, aku yang waktu itu masih baru lulus STM memutuskan untuk bekerja di Surabaya. Ketiga adikku masih sekolah. Waktu itu kami hanya menggantungkan hidup dari pensiunan janda PNS dan doa. Bersyukur kami bisa melaluinya bersama sampai sekarang di pertengahan Januari 2008.

Roda itu terus menggelinding, aku tidak memaksakan kecepatannya. Biar sang kusir yang memperhitungkan. Kita tinggal naik dan merasakan putarannya, terkadang roda itu juga terbentur bebatuan dan masuk lumpur. Goyangan-goyangan kurasakan sebagai gendongan ibu sewaktu merayuku untuk diam dari tangis. Hingga pada saatnya aku sampai pada tujuan yang aku inginkan meskipun terkadang tidak aku harapkan.

Malang, 07/01/08 <dalam pagi menjelang beraktivitas>

Monday, December 31, 2007

RAJA AIR

Kemarin sudah tiada, beberapa jam yang lalu sudah tiada

Beberapa menit yang lalu juga menghilang

Dan detikpun tertinggal

Kini, yang ada hanya sekarang…

Percuma besok kita pikirkan karena besok belum ada,

Sekarang yang ada.

Menikmati yang sekarang bagiku jauh lebih baik.

Hidup itu mengalir seperti aliran sungai, menuruni mata airnya sendiri dari puncak gunung

Aku merasa hidup seperti itu, setelah bertemu di lautan yang luas baru akan terasa,

oh, betapa kecilnya aku!

Aku menyadari segala kekuranganku diantara banyaknya air

Lalu apa yang aku banggakan?

Airpun berubah menjadi jernih, bagaikan Kristal ditengah samudra yang terkena tamparan sinar

Tetapi sungguh malang air yang masih di bibir pantai, kotor, bau dan tersingkir

Raja air menari-nari ditengah samudra

Jernihnya bagaikan Kristal yang diasah jutaan malaikat

Raja air berkuasa atas bumi,

Bahkan manusia menjadi budaknya

Aku berusaha menjuhi bibir pantai

Supaya raja air mengajaku menari

Terkadang aku gagal mendekat saat badai menghempaskanku

Menjauhkan kembali dengan raja air

Tiap hari aku berdoa

Biar samudra itu tenang

Namun sia-sia

"Jika tanpa rintangan bagaimana kamu bisa menarik perhatianku" raja air marah

Aku terus berusaha mengarunginya

Meskipun hempasan ombak terkadang menendangku berkali-kali

Saat aku terhempas dan tenggelam

Aku melihat kunang-kunang di tengah samudra

Bagaimana mungkin ini bisa terjadi?

Kunang-kunang itu menariku keatas

Hingga aku terapung kembali

Tetapi aku bangga, bisa berusaha mendekat ke raja air

Memandang wajahnya terkadang aku tidak pantas

Tapi aku ingin menari

Dan aku berharap suatu saat aku juga menjadi raja air

Karena ada damai ditengah samudra

31/12/2007 <dalam refleksi akhir tahun>

Thursday, December 27, 2007

BANGKIT

BANGKIT


Dalam temaran lampu kabut alun-alun kota Bondowoso cak Jo bercanda dengan anak dan istrinya. Ya, meskipun hanya menjual minuman hangat tampak ada keakraban. Baru tiga bulan cak Jo pindah di kota Bondowoso yang jauh dari kebisingan kota besar seperti Surabaya. Dulu cak Jo memang tinggal di Sidoarjo, namun karena tempat usahanya di wilayah Porong leyap dalam beberapa hari ia memutuskan untuk meninggalkan kota tercintanya demi mempertahankan hidup. Usahanya yang ia rintis sejak puluhan tahun telah lenyap ditelan lumpur. Lumpur bercampur bau belerang itu sungguh menyegat kehidupannya. Entah, sampai kapan lumpur itu berhenti, tidak akan nada yang tahu. Entah disengaja atau tidak, semburan lumpur itu juga tidak ada yang tahu. Namun semua itu sudah terjadi, lantas mau dibilang apa? Protespun juga perscuma. Rakyat memang seperti lalat, tidak punya kuasa atas tahta.

Rajapun hanya tersenyum diatas tahta, melihat kehidupan kami yang nyaris mati. Kami menyesal memilih raja seandainya tahu kalau keadaannya seperti ini. Meskipun punya kuasa namun tidak memiliki kuasa atas kehidupan kami. Kami akhirnya tersingkir mempertahankan kehidupan dengan cara kami sediri. Mungkin suatu saat para calon penguasa Negara ini juga akan berusaha membeli suara kami. Tapi maaf, suara kami mungkin akan menjadi bisu dan telinga kami akan menjadi tuli. Lidah kami tidak akan mampu bergetar mengelu-elukan sewaktu raja belum bertahta.

Lalu apa arti demokrasi yang selalu di dengung-dengungkan di telinga kami setiap lima tahun sekali. Demokrasi maaf, "tai asu", hanyalah alat untuk membohongi kami. Buktinya kalau sudah jadi raja lupa pada kami. Kami memang tidak punya kuasa namun kami punya hati nurani dan rasa. Sedangkan raja, hanya punya kuasa.

Kini kami salah satu dari yang tersingkir dan mencoba bangkit dari calon kematian. Dewa pencabut nyawa juga enggan mendatangi kami karena kami masih punya harapan untuk hidup. Bukan sekedar hidup, tapi juga ingin melihat kematian sang raja. Entah raja apa saja; raja minyak, raja sayur, raja kayu, maupun raja gombal.

Biarkan kami tetap hidup meskipun hari ini sudah berakhir. Kami berharap esok masih ada hari yang baru untuk mencari kehidupan yang kami mau. Kami yakin suatu saat kami juga akan menjadi raja; entah raja judi, raja ayam, raja hutan, raja kecil atau maaf, raja singa.

<cak jo-bondowoso 21/12.07> dalam temaram lampu kabut di alun-alun kota.

Tuesday, December 18, 2007

ASU SU!

Gerimis mengiringi perjalanan ke tempat kerjaku, pagi itu. Badanku masih terasa letih karena semalaman sampai larut menyelesaikan rutinitas pekerjaanku, apalagi aku baru pulang dari luar kota. Mataku masih tampak lebam karena kurang tidur sedang rambutku telihat agak berantakan karena belum aku rapikan dan sedikit pengaruh dari model baru rambutku. Badanku juga masih terasa meriang, mungkin pengaruh kurang tidur. DUARRR! DUARRR! Kialatan cahaya bersamaan dengan suara halilintar memekakkan telingaku. Asu! Diancok! Sepontan umpatan kata itu keluar dari mulutku. Seketika aku menghentikan langkahku, kutatap ke langit sambil kucondongkan badanku. Aku menatap lagi langit sambil berkacak pinggang, namun yang kudengar hanya suaranya saja yang gaduh. Dalam batin aku hanya bertanya. “Kakean gludug ora sido udan, su!” (hanya suara petir yang keras tapi tidak jadi hujan)

Sebenarnya aku ingin menantang kamu. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan. Kamu jauh ada diatas saat mendung mulai bersenandung, sedang aku tidak punya sayap. Panahku pun tidak bisa menjangkau karena engkau selalu bersahabat dengan mendung. Aku harus menyingkirkan mendung bila ingin menjatuhkamu dari awan.

Bagiku, petir pagi itu sombong. Mungkin dalam hati ia tertawa karena telah membuatku terkejut. Mungkin ia pikir aku takut berjalan karena sewaktu-waktu ia bisa menyambar rambutku hingga menghitamkan kulitku. Sama sekali aku tidak takut petir, bukan berarti aku membela diri. Aku hanya menghargai keAgungan yang Maha Kuasa karena telah menciptakannya sedemikian rupa. Bukannya aku tidak mau mencaci maki karena aku pikir petir itu justru sangat rapuh. Kilatannya yang putih dan tajam, serta suaranya yang kadang menggelegar bagiku justru menutupi kerapuhannya. Maaf, bukan berarti aku meremehkan karya ciptaanMu. Tetapi mengapa dia sendiri masih belagak kuat jika sesungguhnya rapuh.

Aku kasihan terhadapmu, saat suara gaduhmu menggelegar aku hanya tertawa, maaf! karena aku sudah sedikit banyak tahu siapa kamu.
Petir hanyalah petir tidak bisa menjadi mendung yang menghasilkan hujan
Petir hanyalah petir tidak bisa menjadi rasa yang menghasilkan warna
Petir hanyalah petir tidak bisa menjadi kuat yang menghasilkan bijaksana
Petir hanyalah petir tidak bisa menjadi terang yang menghasilkan damai
Petir hanyalah petir, aku berharap hanya menjadi warna

Malang, 17/12/07
Disela waktu dalam tanya jawab doa

Sunday, December 16, 2007

Aku dan Dirimu

Suatu hari aku bertemu dengan dia, tanpa sengaja. Entah! hingga sekarang aku tidak bisa melupakannya. Perlahan rasa sayang itu ada hingga menyelimuti hatiku. Buatku, pertemuan itu hal yang biasa, namun pertemuan dengan dia tidak biasa. Mataku hanya bisa memandang, terpaku dikelopak matanya dan hatiku terdiam seakan berada dibalik jeruji besi.

Semakin lama aku mengenalnya membuat rutinitas hidupku menjadi tambah teratur. Aku semakin tahu arah dan tujuanku di masa yang akan datang. Tentang cita-cita yang selama ini tidak begitu aku hiraukan, kini semakin jelas meskipun belum semuanya dapat aku sentuh.

Suatu saat aku berharap dapat melihat masa depanku dengan jelas. Tentang kebahagian yang aku pikir hanya semu, ternyata ada dalam diriku. Sekarang aku tidak perlu mencari kebahagiaan itu lagi, karena semua itu sudah ada sebelum semua yang aku pikir ada.

Buat cinta, makasih udah menyetuh hatiku.

Tengkyu God