Monday, April 5, 2010

Alamat Penerbit Buku Indonesia

Penerbit Escaeva


Home page: http://www.escaeva.com
Alamat penerbitTaman Pajajaran A7/24 Bogor Jawa Barat Indonesia16144


Email: escagroup@yahoo.com
menerbitkan buku umum, non fiksi dan fiks


====================

Penerbit Gandum Mas


Home page: http://www.gandummas.com
Alamat penerbit

Jl. Raya Karanglo No. 103 Malang - Jawa Timur

Kotak Pos 46 - Malang 65101

Telp: (0341) 485169 ext. 103 & 104

Faks: (0341) 491570

email: infobuku@gandummas.com
Menerbitkan buku agama Kristen

========================

Penerbit Lentera Hati


Home page: http://www.lentera-hati.com
Penerbit Lentera Hati
Jl.Kertamukti No.63 Pisangan Ciputat 15419
Telp. +62 21 7421913
Fax. +62 21 7421913
email: info@lenterahati.com
Menerbitkan buku umum, dan rohani agama Islam

Sunday, March 7, 2010

Sistem Royalty dan Beli Putus Naskah Buku

imagesbookSistem Royalty dan Beli Putus Naskah Buku

Banyak temen-temen yang bertanya, jika saya ingin menerbitkan buku, saya harus membayar berapa? Bisanya saya selalu menjawab “gratis”. Eh temen saya malah melongo.

Secara umum ada beberapa sistem dalam kerjasama penerbitan buku, antara lain:

  1. Naskah buku dibeli putus oleh penerbit. Maksudnya adalah naskah dari penulis langsung dihargai (dibeli) oleh penerbit. Tentu saja negosiasi harga sebuah naskah harus sesuai dengan kesepakatan antara penulis dan penerbit. Untuk itu penulis tidak mendapat royalty. Kesepakatan/kerjasama sistem beli naskah putus tiap penerbit tidak sama, tergantung dari kebijakan masing-masing penerbit.

  2. Naskah buku dengan sistem royalty. Royalty adalah pembagian dari hasil penjualan buku. Besaran royalty di Indonesia rata-rata 10% dari harga buku (bruto). Misal; jika harga buku Rp10.000,-/eksemplar maka penulis akan mendapatkan royalti sebesar Rp1000,-/eksemplar. Pada umumnya royalty diberikan setiap semester. Namun ada juga penerbit yang membayarkan royalty lepada penulis dimuka, artinya sebelum buku terjual penulis sudah mendapatkan royalty terlebih dahulu. Besaran pembayaran royalty tergantu kebijakan penerbit. Maka dengan sistem ini penulis tidak dibebani biaya produksi.

  3. Naskah buku dengan sistem subsidi. Dalam hal ini penerbit dan penulis atau mungkin ada sponsor, bekerjasama mendanai biaya pembuatan buku, sehingga memungkinkan harga buku lebih murah.


Namun dari ketiga contoh sistem kerjasama penerbitan buku ini, masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, tinggal bagaimana kebijakan penulis dan penerbit menegosiasikannya.

Proses Umum Penerbitan Buku

diagram umum proses penerbitan buku

Proses Umum Penerbitan Buku

  1. Naskah Buku/Mengirim Naskah Buku. Naskah buku bisa berasal dari seorang penulis atau hunting naskah baik dari dalam maupun luar negeri (buku terjemahan). Jika naskah buku berasal dari seorang penulis lokal biasanya naskah dikirim langsung ke penerbit, misal: Gramedia Pustaka Utama, Grasindo, Elexmedia, Erlangga, Kanisius, Dioma, Galangpress, penerbit Kompas dll. Pada umumnya pihak penerbit mensyaratkan pengiriman naskah dalam bentuk print out dan soft copy (dalam CD atau DVD). Untuk memudahkan proses penerimaan naskah, penulis perlu menyertakan data pribadi secara lengkap dan ringkasan tentang isi dari naskah tersebut. Lebih lengkap lebih baik. Jangan lupa memberikan catatan tentang point of sales dari nakah buku yang dikirimkan,  sehingga pihak redaksi bisa segera memproses/menyeleksi naskah tersebut. Penulis tinggal menunggu beberapa minggu untuk menanti jawabkan dari redaksi, apakah layak diterbitkan atau tidak. Jika proses menunggu terlalu lama tidak ada salahnya kalau anda proaktif menghubungi pihak penerbit.

  2. Penerbit Buku. Setelah naskah diterima oleh penerbit, maka naskah tersebut akan diseleksi oleh pihak redaksi. Redaksi akan menilai apakah naskah tersebut layak terbit atau tidak. Naskah yang layak terbit tergantung dari penilaian redaksi, misal; apakah naskah tersebut sesuai dengan visi dan misi penerbit? Apakah marketable dengan kondisi pasar sekarang? Dll. Sebagai contoh: naskah buku pelajaran sekolah lebih cocok dikirimkan ke penerbit yang memang konsen/memiliki visi misi di dunia pendidikan, misalnya penerbit Erlangga, Grasindo, Intan Pariwara, dsb. Jadi penulis juga perlu tahu, kira-kira naskahnya sesuai diterbitkan di penerbit mana? Untuk mencari info penerbit bisa melalui internet, googling, atau alamat penerbit buku. Jika naskah tersebut layak terbit maka penulis akan dihubungi penerbit, selanjutnya akan dibuatkan MOU kerjasama penerbitan antara Penerbit dan Penulis. Jika naskah tidak layak terbit, akan dikembalikan oleh penerbit ke penulis. Namun, jangan berkecil hati. Naskah yang dikembalikan belum tentu tidak layak terbit, karena itu penilaian dari satu penerbit. Coba tawarkan ke penerbit lain, mungkin naskah tersebut sesuai di penerbit lain. Sebagai saran; jangan pernah mengirimkan naskah anda dengan judul dan isi yang sama ke banyak penerbit, karena dapat menyulitkan penulis jika ternyata naskah tersebut diterima oleh lebih dari satu penerbit. Kedua, jangan pernah mengirimkan naskah buku yang sudah pernah diterbitkan oleh penerbit yang masih dalam ikatan kontrak, bisa jadi nama anda akan di blacklist oleh penerbit.

  3. Proses Editing Naskah. Andaikan naskah anda sudah diterima dan akan diterbitkan oleh penerbit. Jika ya, anda pasti sudah menandatangi surat perjanjian kerjasama penerbitan buku. Baca secara seksama, agar anda juga mengetahui segala hak dan kewajiban yang nantinya akan anda patuhi dan terima. Jika dalam point perjanjian ada pasal-pasal yang tidak sesuai dengan keinginan anda, anda bisa menegosiasikan dengan pihak penerbit sehingga perjanjian dapat menguntungkan kedua belah pihak. Selanjutnya naskah anda akan diproses kembali melalui editing dan setting. Seiring berjalannya proses editing dan setting naskah, pihak penerbit juga menyiapkan cover buku untuk buku anda. Setelah semuanya selesai, selanjutnya tinggal menunggu proses cetak di percetakan. Penulis tinggal menunggu hasil dari karya intelektualnya. [semoga bermanfaat]

Thursday, February 25, 2010

Belajar Konsep Desain

bulbMendesaian sebuah layout sebuah media informasi (buku, booklet, brochure, flier, tabloid, dll) memang tidak mudah. Ternyata butuh modal dasar untuk yang memang tidak gampang. Salah satunya dengan menggunakan konsep dasar 5 W ( What, Why, Who, When, Where) dan 1 H (How), begitulah share dari temen-temen desainer.

  1. WHAT, apa tujuan desain tersebut? Menetapkan tujuan sangat penting karena tanpa tujuan pesan yang akan disampaiakan akan tidak tersampaiakan.

  2. WHY, mengapa media informasi ini penting untuk audience?

  3. WHO, siapakah target audience-nya/pembacanya?

  4. WHEN, kapan waktu yang tepat untuk mempublikasikan media informasi.

  5. WHERE, dimana dapat meletakan/memasang media informasi supaya mudah dibaca oleh terget audience.

  6. HOW, bagaimana cara menyampaiakannya pesan agar dapat cepat diterima oleh target audience.


Biasanya sebelum desainer memulai sebuah proses mendesain sebuah media informasi ataupun buku ada proses creative brief, dari atasan atau pihak yang terkait/pemesan, yang fungsinya sama dengan konsep desain, namun tertuang dalam bentuk tulis. Pada prinsipnya seorang desainer akan lebih cepat bekerjanya jika mendapat informasi secara lengkap. Sehingga nantinya dapat tertuang dalam desain yang begitu menarik dan pesan dari informasi itu dapat sampai ke target audience. (Semoga bermanfaat)

Sunday, February 21, 2010

Seperti Kisah di Calcutta

teresaSeperti Kisah di Calcutta

Ibu Teresa pernah bermimpi, Santo Petrus menghalanginya masuk ke surga. Penjaga pintu surga itu membentaknya keras, “Enyahlah kamu. Di surga ini tidak tersedia tempat-tempat kumuh!”

Ibu Teresa marah. Ia membalas menjawab, “Baiklah, akan kupenuhi surga dengan gelandangan dan penghuni-penghuni tempat kumuh sebanyak-banyaknya, sampai aku sendiri memunyai hak untuk memasukinya”. …

Begitulah penggalan cerita yang ditulis oleh romo Sindhunata SJ. Dari buku Segelas Beras Untuk Berdua penerbit Kompas.

Cerita tersebut menggambarkan suatu realita kehidupan, masih banyak disekitar kita yang membutuhkan uluran tanggan kita, namun terkadang kita menutup mata.

Suatu pagi aku mengunjungi toko buku Gramedia di Jalan Basuki Rahmat Malang. Saat aku berada di lantai dua dan melihat kearah bawah dari dinding kaca, beberapa bule dari Negeri Belanda membagi-bagikan bingkisan kepada beberapa anak-anak jalanan. Anak-anak itupun melonjak-lonjak kegirangan sambil mengakat-angkat bingkisannya. Yah, mungkin hanya ada rasa gembira yang ada dihatinya. Mereka amat menyukuri berkat dari tutup-tutp botol minuman ringan yang ia jadikan alat music bisa menjadikan sesuatu yang amat menggembirakan. Suara alat music yang mengiringi suara fals mereka, yang terkadang sangat memekakan telinga sungguh menjadikan mereka bahagia.

Dihimpit oleh bangunan-bangunan tinggi di pertokoan Kayutangan Malang, tidak sedikit kaum marginal yang sibuk bergulat dengan keringatnya. Tukang becak, penjual jamu gendong, penjaja koran jalanan dan antrian microlet sering mangkal di depan toko OEN yang sering dikunjungi tourist yang kebanyakan berasal dari negeri Belanda. Gereja Katolik Hati Kudus Tuhan Yesus yang berdiri megah bersebelahan dengan restoran sepat saji McDonald juga tidak kalah megahnya menghiasi tata kota. Tetapi disinalah yang tidak disadari bagi banyak orang, yaitu muncul kebahagiaan bagi anak-anak jalanan, terutama pada hari itu, hari dimana aku bisa melihat karya Tuhan yang membagikan tubuhNya.

Modernisasi bagi sebagian kaum ini tidak membuat surut dalam berjuang menghadapi tantangan hidup. Malah menjadikan modernisasi sebagai tantangan yang harus dihadapi dan diperjuangkan. Dinding-dinding beton kokoh yang menghimpit rumah kardus justru menjadikan surga bagi meraka, karena ada sedikit berkat dari modernisasi. Tidaklah mungkin Tuhan menciptakan mahkluk hidup jika akan diterlantarkan.:-)

Lonceng Gereja dan Dering Handphone



bellMenarik kalau kita mengamati disekeliling kita, tatkala kita mengikuti sebuah perayaan ekaristi/misa di gereja, tiba-tiba  terdengar dering handphone. Ironisnya yang merasa memiliki handphone justru tersenyum ataupun tertawa  pelan mendegar suara dering, dengan entengnya menjawab hallo!

Peristiwa diatas mungkin sering kita jumpai dibeberapa gereja, terlebih di gereja-gereja di kota besar. Rasa khusuk/sakral terhadap perayaan ekaristi semakin lama semakin tenggelam. Namun itu semua menjadi tanggung jawab kita sebagai umat kristiani. Bukankah kita tidak mau mengganti deantang lonceng gereja dengan dering HP?

Membuat Kalimat Judul Buku

judul buku

Pengenalan Komputer Pada Anak, Financial Revolution, Marketing Revolution, Berguru Pada Anak, Membajui Yang Telanjang, Nikmatnya Mie Remes, 7 Langkah Mudah Menjadi Web Master, How To Advertise, Tips & Trik Menjadi Blogger, Kaya Lewat Internet, dan lain sebagainya.

Kalimat diatas adalah contoh kalimat judul sebuah buku. Kalau kita amati kata dari masing-masing kalimat judul diatas tidak ada yang lebih dari 5 kata.

Memang menarik kalau kita mencermati ribuan judul buku yang beraneka warna serta font di toko buku terkemuka diseluruh kota besar Indonesia. Lalu apa yang menarik? Barangkali, salah satunya adalah rangkaian kalimat judul. Bagi orang awam, apalagi yang sama sekali tidak berkecimpung di dalam proses pembuatan sebuah buku pasti tidak akan tahu tahap-tahap membuat kalimat judul.

Memang tidak mudah membuat kalimat judul hingga layak tampil di halaman cover depan dari sebuah buku. Dalam hal ini, editor dan marketinglah yang merupakan tempat menggodok atau memroses kalimat judul. Membuat kalimat judul sama halnya dengan merangsang calon pembeli, minimal melirik dan tertarik dengan kalimat judul yang kita buat, sehingga akan terjadi transaksi pembelian.

Berikut ini adalah beberapa masukan dari teman-teman penerbit (buku) mengenai proses pembuatan kalimat judul sebuah buku:

Pertama, hendaknya kalimat judul dibuat beberapa kalimat kurang lebih 5 sampai 10 kalimat, sebagai deretan kalimat untuk didiskusikan. Kalimat judul harus erat kaitannya dengan isi buku.

Kedua, bersama team mendiskusikan kalimat judul. Kalimat judul harus memiliki kuatan menjual. Sehingga buku tersebut, meskipun hanya dengan sebuah judul saja sudah mampu menjual dirinya sendiri jika terpampang di toko buku, media iklan maupun di media promosi yang lain.

Ketiga, jika dimungkinkan melakukan survey pasar untuk menentukan judul mana yang paling dilirik pertama kali oleh calon pembeli, meskipun calon pembeli belum membaca isi bukunya.

Keempat, memutuskan judul mana yang akan dipakai dalam kalimat judul.

Kelima, berdiskusi dengan bagian desain grafis untuk menentukan pembuatan desain cover buku. Jika dimungkinkan melakukan survey pasar untuk memutuskan desain mana yang layak jual.

Proses pembuatan judul buku tidaklah berhenti begitu saja sampai kelima. Pasti! Ada langkah keenam, ketujuh dan seterusnya. Minimal bagi orang awam tahu garis besarnya bagaimana proses membuat kalimat judul sebuah buku.

Memang, ada kalanya kalimat judul buku tidak dibuat oleh pihak penerbit. Penulis biasaya sudah mencantumkan judul buku yang ditawarkan ke penerbit. Tetapi untuk menentukan kalimat judul mana yang akan dipakai tergantung dari kesepakatan antara penulis dan penerbit. Maka, disini sering terjadi pro dan kontra dalam menulis sebuah kalimat judul. Si penulis menginginkan judul sesuai dengan idenya sendiri tanpa memperhitungkan apakah judul itu menjual, sedang penerbit sangat mempertimbangkan layak tidaknya judul sebagai kalimat yang menjual. Disinilah perlu adanya komunikasi yang baik antara pihak penulis dan penerbit. [yos ] :-)

Wednesday, September 9, 2009

Konflik di tempat kerja itu menyenangkan.

Bagi temen-temen yang bekerja disebuah instansi/perusahaan pasti sering mengalami konflik dengan atasan atau bawahan (secara setruktural). Bahkan sering kali konflik tersebut kita alami setiap hari. Dengan situasi psikologi seperti itu, pastinya rasa bête menjadi menguasai kita, apalagi tugas kita juga dikejar deadline yang mepet. Hemmm so pasti tambah bête.

Alhasil, udah bête, deadline molor, dimarahi atasan, diledekin temen sekantor, menjadi makanan setiap hari. Ya memang konflik ditempat kerja tidak bisa dihindari, pasti selalu ada disetiap situasi. Apalagi kalau kerjaan kita berkecimpung di bisnis kreativif, yang selalu dikaitkan dengan ide dan kreativitas. Lalu apa jadinya bila kerjaan kita juga  diobok-obok oleh atasan atau teman kita? Pastinya jengkel kan, gak sesuai dengan ide orisinal yang mungkin udah capek-capek kita cari di toilet, duduk melamun atau sambil membaca koran.

Sekarang gak zamannya kalo bos marah-marah dengan bawahan, apalagi didepan temen sekantor. Kalo sekarang masih ada bos yang kayak gitu, anggap aja bos jadul. Kalau salah yang diandalkan marahnya (kekuasaannya), bukan solusi untuk menyelesaiakan masalah tersebut. Kini zamannya kita yang harus mampu mengubah yang “jadul” jadi “jasek” (jaman sekarang)

Jadi happy fun aja, kalau kita sering kali memunyai konflik di tempat kerja. Selain menjadikan kita lebih creative me-manage konflik juga menambah keterampilan kita untuk mencari solusi dalam memecahkan masalah. Jadi jangan ngandalin emosi aja dan jangan takut salah.

Somoga banyak konflik ya di tempat kerja!

Tuesday, July 28, 2009

Analitical Thinking

Tidak hanya berpikir kreatif, tetapi harus juga berpikir logis dalam kenyataan.  Saya teringat saat mengikuti seminar yang dibawakan oleh James Gwee disuatu kesempatan. Saat itu James membawakan tema tantang service exellence (layanan prima). Sebuah layanan yang sering didengung-dengungkan di berbagai perusahaan untuk meningkatkan kualitas layanan.

Kemudian, dari hasil seminar itu saya coba mengkaitkan dengan cerita saya ketika menginap disebuah hotel di Surabaya. Ketika saya turun dari mobil taxi bersama teman saya, seorang petugas hotel, yang kebetulan pada saat itu berada didepan pintu masuk segera menghampiri saya, menawarkan diri untuk membantu mengangkat dan membawakan tas dan barang bawaan kami. Selama kami check-in di receptionist sang petugas hotel yang membawakan tas kami setia menunggu dan setelah itu mengantar kami menuju kamar hotel di lantai 3 melalui lift. Wawan, nama petugas hotel, sangat ramah dan supel, ia tidak canggung menayakan kami dari mana, atau menanyakan mau berlibur kemana dan lain sebagainya. Setelah pintu lift terbuka, Wawan segera keluar, mengantar dan menunjukan letak kamar kami, setelah sampai ia membuka pintu kamar dan mempersilakan kami masuk dan menaruh tas kami dilemari pakaian “ beberapa kebutuhan selama anda menginap sudah kami sediakan, selamat beristirahat, semoga kami bisa melayani anda dengan baik. Jika membutuhkan sesuatu silakan menghubungi saya.” begitu ucap Wawan, setelah itu ia menutup pintu dan meninggalkan kami.

Kisah itu sangat menarik karena sangat menyetuh hati saya, yang sebelumnya tidak pernah saya pikirkan ternyata bisa saya rasakan. Perjalanan selama turun dari taxi sampai istirahat di kamar hotel, kami merasa dimanjakan dengan pelayanannya, ya, meskipun bukan sekelas hotel berbintang tetapi bagi saya sangat baik. Hanya dengan menginap di hotel yang bertarif tiga ratus ribu bisa mendapatkan pengalaman dari pelayanan hotel yang menyenangkan.

Jadi para “pelaku” itu, entah manajernya, atasannya langsung atau Wawan sendiri, meskipun tidak secara langsung juga mengemukakan berbagai fakta yang logis, membuat kemajuan terhadap ide dan masalah dengan cara menganalisa pelanggannya. Mereka menggugat atau memberontak dari asumsi-asumsi yang mungkin sudah sering dijalankan (sudah menjadi treadisi/budaya) dan mencari asumsi-asumsi baru untuk meningkatkan pelayanan dengan salah satu cara berpikir analistis. :-)

Friday, July 24, 2009

ORIGINAL THINKING

Siapa menyangka jika dulunya bagunan itu dealer sepeda motor, tetapi sekarang berubah menjadi kedai bakso. Aku pun juga tidak pernah memikirkan hal sesederhana itu, dealer sepeda motor yang dulunya ramai sekarang justru ramai dengan pengunjung kuliner. “ada-ada saja”

Sebut saja pak Iwan (bukan nama sebenarnya) pemilik bangunan sekaligus dealer sepeda motor. Setelah penjualan sepeda motor cenderung lesu, dikarenakan banyak faktor yang memengaruhi seperti; bertambahnya dealer sepeda motor, banyaknya kompetitor motor dari China, India dan lain sebagainya, memaksa pak Iwan untuk memikirkan suatu terobosan baru guna menaikan kembali kurva bisnisnya yang cenderung menurun. Selama dua Minggu, setiap pagi Pak Iwan belajar membuat olahan daging sapi dengan seorang penjual bakso keliling. Berselang dua Minggu Pak Iwan sudah terampil sekaligus kreatif membuat olahan daging sapi dengan berbagai bentuk, bakso bulat, kotak, segitiga, bahkan ada yang sebesar bola tenes dan dalma bentuk yang lainnya.

Setelah Pak Iwan mencermati serta menganalisa olahan daging yang dibuatnya, ia tersadar, bahwa olahan daging semacam itu sudah umum di pasaran. Pak Iwan kembali berpikir untuk membuat suatu terobosan lagi dengan membuat Bakso Kepala Sapi. Rasa-rasanya Bakso Kepala Sapi memang nama yang sedikit aneh, tetapi rasanya tidak kalah sedap dengan bakso daging biasa seperti kebayakan bakso lainnya. Bakso tersebut diolah dari bagian kepala sapi, mulai dari lidah, hidung, leher bagian atas, telinga dsb dan Bakso Kepala Sapi siap menggoyang lidah bagi para pencinta kuliner.

Bermodal spanduk digital bergambar kepala sapi berukuran 4 x 5 meter, berwarna mencolok berhasil menarik perhatian orang yang melewati kedai bakso Pak Iwan. Mereka tertarik karena gambar kepala sapi yang berukuran besar, apalagi selama ini jarang yang menggunakan istilah Bakso Kepala Sapi. Sekarang, jika waktu menjelang pukul lima sore, setelah dealer sepeda motornya tutup, profesi Pak Iwan berubah menjadi penjual Bakso Kepala Sapi.

Dengan demikian Pak Iwan mampu dan mau mencoba untuk mengangkat kurva bisnisnya, sekaligus memiliki perspektif yang baru dalam melihat solusi terhadap problem yang dihadapi dengan cara yang berbeda. Ilustrasi ini memang sedikit dari sekian banyaknya contoh yang mungkin pernah kita jumpai disekitar kita, yaitu suatu ide kreatif yang sederhana.

terInspirasi dari marketing genius